Cirebon – Program Studi Sejarah Peradaban Islam (SPI) UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon menjalin kerja sama akademik dengan Program Studi Sejarah dan Kebudayaan Islam (SKI) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta melalui program Visiting Lecturer yang berlangsung pada 5–7 Oktober 2026. Kegiatan ini menghadirkan dua akademisi UIN Sunan Kalijaga, yakni Abdul Aziz, M.Hum., dan Dr. Sujadi, M.A., untuk berbagi pengetahuan, pengalaman, serta perspektif akademik dalam pengembangan kajian sejarah di lingkungan perguruan tinggi.

Program yang resmi dibuka pada Senin (5/10) oleh Dekan FUA UIN SSC, Dr. H. Anwar Sanusi, M.Ag menegaskan perlunya kegiatan visiting lecturer ini sebagai bagian dari penguatan kerjasama dua Universitas Islam ini Cirebon-Yogya dan memperkuat implementasi kolaborasi antar keduanya sesuai dengan tuntutan Tri Dharma PT.
selanjutnya, kegiatan visiting lecturer dimulai oleh Abdul Aziz, M.Hum dengan memberikan perkuliahan interaktif yang dirancang untuk memperluas wawasan mahasiswa dalam memahami ilmu sejarah. Dalam paparannya, Abdul Aziz, M.Hum membahas materi seputar filsafat ilmu dan filsafat sejarah sebagai landasan dalam membangun pola pikir yang sistematis dan kritis. Selanjutnya, Dr. Sujadi, M.A., menyampaikan materi mengenai pentingnya merancang kajian sejarah yang tidak hanya memiliki kedalaman akademik, tetapi juga mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat (impactful).
Memasuki hari kedua, kolaborasi akademik tersebut berlanjut melalui kegiatan gelar wicara dalam format podcast yang diselenggarakan di Gedung Siber UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon. Diskusi dipandu langsung oleh Ketua Jurusan Sejarah Peradaban Islam, Aah Syafaah, M.Ag., dengan mengangkat isu relevansi kurikulum humaniora di tengah perubahan zaman. Dalam diskusi tersebut, para narasumber menekankan pentingnya evaluasi dan pembaruan kurikulum secara berkala, bahkan setiap semester, agar proses pendidikan mampu merespons perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kebutuhan masyarakat.
Para narasumber juga menyoroti perlunya transformasi pendidikan sejarah dari pendekatan yang berorientasi pada transfer pengetahuan menuju outcome-based education. Melalui pendekatan ini, pembelajaran sejarah diharapkan tidak berhenti pada penguasaan teori dan pemahaman peristiwa masa lalu, tetapi juga membekali mahasiswa dengan kompetensi praktis yang relevan dengan dunia kerja. Dengan demikian, mahasiswa Program Studi Sejarah Peradaban Islam diharapkan mampu mengenali potensi diri, merancang arah karier, dan mengembangkan keterampilan yang dapat diterapkan setelah menyelesaikan pendidikan.
Isu pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence atau AI) di tengah maraknya disinformasi pada era post-truth turut menjadi perhatian utama dalam podcast tersebut. Para akademisi membahas peluang penggunaan AI untuk mendukung efisiensi penelitian, pengembangan gagasan konseptual, serta produksi konten visual. Namun, pemanfaatan teknologi tersebut perlu disertai kemampuan berpikir kritis dan verifikasi sumber melalui metode triangulasi data. AI dipandang sebagai perangkat pendukung penelitian, bukan pengganti proses heuristik, penelusuran sumber sejarah, maupun penelitian lapangan yang menjadi bagian penting dalam metodologi sejarah.
Diskusi ini sekaligus menegaskan bahwa perkembangan teknologi digital perlu diimbangi dengan penguatan tradisi intelektual dan budaya literasi mahasiswa. Penggunaan AI secara pasif dan berlebihan berpotensi mengurangi keterlibatan mahasiswa dalam membaca, menelaah, dan membangun argumentasi secara mandiri. Oleh sebab itu, kedisiplinan dalam proses pembelajaran, termasuk pengaturan penggunaan gawai di ruang kelas, menjadi salah satu langkah yang dapat diterapkan untuk menjaga kualitas interaksi akademik.
Selain itu, para narasumber mendorong penerapan product-based education melalui kegiatan yang menghasilkan karya nyata. Mahasiswa tidak hanya diarahkan untuk memahami teori sejarah, tetapi juga didorong menghasilkan luaran akademik dan kreatif, seperti publikasi artikel jurnal, pengelolaan serta pameran arsip, dan berbagai produk pengetahuan yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat. Pendekatan ini diharapkan memperkuat keterhubungan antara pembelajaran di ruang kelas, pengembangan keterampilan, dan kontribusi nyata dalam pelestarian serta pemanfaatan sejarah.
Melalui program Visiting Lecturer ini, Program Studi Sejarah Peradaban Islam UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon menegaskan komitmennya untuk terus mengembangkan lingkungan akademik yang terbuka terhadap pertukaran gagasan dan kolaborasi antarlembaga pendidikan tinggi. Kerja sama dengan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menjadi salah satu upaya untuk memperkaya perspektif keilmuan, meningkatkan relevansi pembelajaran, serta memperkuat kapasitas mahasiswa dalam menghadapi tantangan perkembangan zaman.
Kolaborasi ini diharapkan menjadi pijakan bagi pengembangan kerja sama akademik yang berkelanjutan sekaligus mendukung lahirnya lulusan Sejarah Peradaban Islam yang memiliki landasan keilmuan kuat, berdaya kritis, adaptif terhadap perkembangan teknologi, dan mampu menghadirkan kontribusi nyata bagi masyarakat, kebudayaan, serta pengembangan ilmu sejarah.